Anjani Sekar Arum, Mengangkat Derajat Batik Bantengan ke Mancanegara
Batik adalah salah satu hasil karya perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia. Negeri ini punya motif batik yang beraneka ragam dengan keunikannya tersendiri. Tidak heran ketika UNESCO memasukkan Batik ke dalam Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendari atau Masterpieces of the Oral and Intangible of Humanity sejak 2 Oktober 2009.
Awalnya, batik
merupakan suatu adat istiadat yang turun temurun. Hal tersebut yang kemudian
menyebabkan suatu motif batik dapat menandakan status atau derajat seseorang. Karena kainnya yang nyaman, batik sering
digunakan untuk bekerja, acara keluarga, dan berbagai acara resmi. Tidak hanya
itu, batik juga mudah ditemukan dalam berbagai jenis tingkatan pakaian, mulai
dari proses produksi pakaian yang sudah jadi, dalam bentuk lembaran kain,
hingga produk modern karya para perancang busana.
Anjani Sekar Arum tergerak untuk melestarikan Batik Bantengan, yang
merupakan ciri khas warga di kota Batu, Malang, Jawa Timur. Setelah
menyelesaikan pendidikannya di Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra,
Universitas Negeri Malang, Anjani memilih fokus untuk membuat batik dengan
motif Bantengan.
![]() |
| Anjani Sekar Arum (foto:Tempo.co.id) |
|
Pada mulanya, Anjani membuat 54 lembar batik yang dia buat sejak menjadi
mahasiswa pada 2008. Lalu, dia memberanikan diri untuk menggelar pameran
tunggal di Galeri Raos, Batu. Di luar dugaan, pameran tersebut berjalan sukses.
Batik Bantengan buatan Anjani habis terjual. Tidak lama setalah menggelar
pameran tersebut Pemerintah Kota Batu mengangkat Batik Bantengan menjadi batik
khas Batu. Penobatan sebagai batik khas Batu tidak serta merta mengangkat derajat Batik Bantengan. Memasyarakatkan motif baru tidak sesederhana menggelar pameran di dalam dan luar negeri. Persoalan datang ketika Istri Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, mengajaknya pameran di Praha, Republik Ceko. Dua pekan menuju hari H, Anjani cuma sanggup membuat 10 lembar kain. Anjani Sekar Arum (foto:Kompasiana) Ternyata tidak mudah mencari pembatik yang tekun dan bagus. Pada 2015, ia bertemu dengan Aliya, gadis berusia 9 tahun yang tertarik mempelajari cara membatik. Sejak itu, Anjani memilih melatih anak-anak menjadi pembatik di sanggarnya. Menurut Anjani, menurunkan keahlian membatik kepada generasi muda adalah salah satu cara dalam melestarikan budaya. Setiap bulan,
Sanggar Andana rata-rata menghasilkan 45 lembar kain batik. Setiap lembar
dijual Rp 300 ribu-750 ribu. Dari setiap kain yang terjual, Anjani hanya
mengambil 10 persen. Uang itu digunakannya untuk membeli kain, pewarna, dan
perlengkapan lain. Selebihnya menjadi hak para pembatik anak-anak. Sanggar dan
galerinya terus berkembang sehingga Anjani membutuhkan tempat yang lebih layak.
Sejak 2018 dimulailah
proses pemindahan sanggar dan galeri Anjani ke tempatnya saat ini, di Desa
Bumiaji. Lewat kepindahan itu, Anjani seolah membawa Bantengan pulang. Tak hanya
menjual kain batik motif Bantengan, galeri milik Anjani itu juga melayani
pelatihan batik cap dan tulis baik untuk pelajar atau siapa saja yang nantinya ingin
membuka usaha batik. Khusus pelajar,
dengan sifatnya yang eksplorasi kultural, paket pelatihan per siswa hanya
dibandrol harga Rp 100.000. Sementara itu, bagi perencana bisnis akan ada proses negosiasi terlebih
dahulu tergantung kebutuhan produksinya nanti seperti apa. Dalam kegiatan
edukasi tentang batik tersebut peserta akan diajak mengenal batik dari segi
sejarah, norma kultural, sampai nilai-nilai estetik dalam setiap guratan
warnanya. Anjani sebagai pemilik galeri Batik Bantengan juga kerap melakukan strategi pemasaran dengan mengikuti event yang sekiranya dapat meningkatkan eksistensi bisnisnya. Seperti mengikuti event bazar, kelompok UMKM, Malang Fashion Week, bahkan bekerjasama dengan pihak lain. Strategi tersebut memberikan hasil positif. Batik Bantengan berhasil dipamerkan
di Republik Cek, Taiwan, Malaysia, Singapura hingga Australia. Berkat
kegigihannya tersebut Anjani mendapatkan Apresiasi SATU Indonesia Awards di
kategori Kewirausahaan pada tahun 2017. |
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar