Maman Sulaeman, Belajar Daring Menjadi Lancar Berkat Aplikasi TMFCBT

Maman Sulaeman adalah seorang guru IT di  SMK Gondang, Pekalongan, Jawa Tengah. Pada 2016, dia membuat aplikasi TCExam Mobile Friendly Computers Based Test for Minimum Competency Assessment (TMFCBT for AKM).

Awalnya, program bernama ini hanya berfungsi untuk ujian berbasis computer. Maman tidak pernah menyangka aplikasinya itu mampu membantu siswa belajar ketika pandemi COVID-19 melanda dunia, termasuk Indonesia.

Ketika pemerintah memutuskan proses belajar mengajar dilakukan secara daring di masa pandemi, banyak sekolah yang kelimpungan. Termasuk SMK Gondang.

Permasalahannya klasik, sinyal internet yang masih sulit.  Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 78,19 persen menembus 215.626.156 jiwa dari total populasi yang sebesar 275.773.901 jiwa.

Apabila dirinci berdasarkan kategori provinsi, penetrasi pengguna internet tertinggi atau di atas 80 persen berada di Banten dengan 89,10 persen dan diikuti DKI Jakarta dengan 86,96 persen.

Selanjutnya, ada Jawa Barat dengan 82,73 persen, Kepulauan Bangka Belitung dengan 82,66 persen, Jawa Timur 81,26 persen, Bali 80,88 persen, Jambi 80,48 persen, dan Sumatra Barat 80,31 persen.

Penetrasi internet yang tinggi memang masih didominasi kota-kota besar. Prihatin melihat infrastruktur jaringan internet yang belum memadai di tengah metode pembelajaran jarak jauh, Maman kemudian memperkenalkan aplikasi TCEXAM kepada siswa.

Maman Sulaeman (foto: Kompasiana)


Aplikasi ini dapat bekerja tanpa perlu server maupun jaringan internet, hingga dikenal sebagai Aplikasi Penilaian Belajar Mode Darurat "Tanpa Sinyal, Tanpa Server".  Cara kerjanya, yakni dengan bisa menghidupkan halaman web format html yang berisi soal dan bisa dikirim ke siswa dalam bentuk file melalui bluetooth, inframerah, maupun media transfer lainnya tanpa perlu menggunakan kuota internet.

Siswa dapat mengerjakan soal ujian tanpa ada kendala jaringan lagi.  Pihak sekolah pun tidak perlu memiliki hosting, domain maupun server karena aplikasi ini dapat dipicu melalui laptop guru atau laptop panitia ujian saja. Lewat aplikasi ini, pendidik maupun siswa yang harus melakukan ujian sistem daring akibat dampak pandemi Covid 19 akan sangat membantu.

“Saya deg-degan karena siswa dan sekolah menghadapi banyak kendala selama pandemi dan pembelajaran daring. Belum lagi server sekolah juga memiliki kemampuan yang terbatas, sehingga tidak bisa menampilkan soal dengan baik," ujarnya," kata Maman.

Maman Sulaeman (foto: dok pribadi)

Dia menceritakan ada siswa yang tidak bisa masuk kelas karena tidak mampu membeli data internet. Lalu ada siswa yang sinyalnya bermasalah karena rumahnya di daerah pegunungan atau dekat jalan raya.

Saat membuat aplikasi ini, Maman tak punya laptop pribadi. Ia gunakan laptop sekolah untuk menciptakan aplikasi ini. WiFi sekolah dan bantuan kuota pemerintah untuk guru ikut mendukungnya dalam membuat aplikasi belajar tanpa sinyal tanpa server ini.

Kendala lain yang dihadapi Maman saat membuat aplikasi ini adalah saat itu dirinya belum begitu mahir pemrograman beberapa kali lupa dalam membuat kode tertentu. Namun, dia tak putus asa. Berbekal jaringan internet, Maman mencari sumber belajar yang bisa membantunya menciptakan aplikasi ini.

Maman percaya, di setiap kesulitan akan ada kemudahan. Di saat pandemi mengharuskan pembelajaran berlangsung secara daring, di mana hal itu sangat membutuhkan gawai dan internet, Maman harus memperjuangkan nasib siswanya. Dia harus berhadapan dengan kondisi siswa-siswanya yang tak memiliki akses terhadap sinyal maupun server.

Usahanya yang tak kenal lelah membuahkan hasil. Maman Sulaeman berhasil menciptakan aplikasi belajar tanpa sinyal tanpa server, TMFCBT. TMFCBT lalu diujicobakan pada ujian semester tahun 2020. Dengan melakukan update pada aplikasi tersebut, siswa tanpa kuota data internet akhirnya dapat mengikuti ujian sekolah dan mengaksesnya meskipun terjadi gangguan sinyal. Sekolah pun tidak perlu keluar dana untuk menambah kapasitas server.

“Di sini siswa hanya membutuhkan data dan kuota sinyal untuk mengirim soal melalui WhatsApp atau Bluetooth chat,” kata Maman.

Maman Sulaeman (foto:Limkedin)

Sejak berhasil TCExam menjadi aplikasi ujian mengembangkan mode darurat, Maman Sulaeman banyak berbagi informasi soal temuannya tersebut di laman Facebooknya yang kemudian diselenggarakan menjadi sebuah grup telegram. Dari situlah banyak sekolah lain dari berbagai wilayah yang ikut bergabung.  Hingga kini sudah 22 sekolah di Indonesia yang memanfaatkan aplikasi tersebut mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, NTT, Kalimantan Selatan hingga Sulawesi Selatan.

Atas inovasi dan kreativitasnya ini, Maman meraih penghargaan SATU Indonesia dari ASTRA tingkat nasional tahun 2021. Kerja keras yang dilakukan Maman mampu membantu siswa mengatasi kendala tidak ada sinyal dan kuota untuk tetap bisa belajar di masa pandemi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Lagi

Aishah

Susu Segar Hometown Dairy Bikin Zuppa Soup Semakin Enak