Tamu Tak Diundang

Ini adalah kejadian yang kami alami pada tahun 2021, saat varian covid Delta sedang naik daun. Semoga bisa berbagi pengalaman dengan semuanya. 

saya dan istri tercinta
“Suatu saat pasti akan kena, hanya tinggal menunggu giliran aja.”

Ini yang ada di benak saya ketika jumlah kasus positif Covid-19 terus bergerak naik di awal Juli. Varian delta punya kemampuan untuk pindah tempat lebih cepat dibandingkan varian sebelumnya.

Akhirnya, tamu tak diundang itu pun datang juga. Pada 3 Juli, saya mengalami demam. Awalnya berpikir karena kelelahan, jadi hanya minum air putih yang banyak dan buang air kecil sesering mungkin. Cara ini yang sering saya lakukan ketika demam di era sebelum pandemi.

Ternyata, cara itu berhasil. Demam pergi tapi datang batuk. Kali ini harus beli obat batuk biar cepat pulih. Tiga hari minum obat batuk, kok yah gak hilang-hilang. Malah kerongkongan pahit seperti panas dalam. Minum larutan untuk panas dalam, tidak mempan.

Istri juga mulai mengeluh badan pegal-pegal. Tulang-tulang ngilu. Jangan-jangan tipes atau DB. Karena batuk yang tidak hilang, teman kantor menyarankan saya untuk tes Covid-19.

Awalnya masih gak percaya kalau kena virus ini. “Masa iya karena batuk aja harus swab,” kata saya dalam hati.

Karena batuk tidak mau pergi juga dan kondisi istri juga tidak membaik, pada 7 Juli kami berdua memutuskan untuk tes antigen. Istri juga tes tipes dan DB di klinik dekat rumah.

Sambil menantikan hasil tes antigen, kami menunggu di mobil. Ketika ada pesan Whatsapp masuk dari klinik, kami langsung membuka dengan hati berdebar-debar.

“Positif”, tulisan yang ada di lembar hasil tes dari klinik itu. Kami berdua terdiam. Setelah 16 bulan pandemi, akhirnya kami terpapar virus Covid-19.

Akhirnya kami bagi tugas, istri menelfon Ketua RW di apartemen karena beliau satgas covid di sana, saya menelfon Nayla. Kami  disarankan satgas covid menjemput Nayla untuk PCR.

Ternyata klinik hanya menerima tes antigen dan PCR sampai jam 4 sore, akhirnya kami baru bisa tes PCR keesokan hari. Selama perjalanan kami membuka semua kaca jendela mobil karena belum tahu Nayla terpapar atau tidak.

Karena kami sudah melapor ke satgas covid apartemen jadi ketika keluar dan kembali ke apartemen kami dibuatkan jalur evakuasi, yaitu masuk ke lift (orang lain tidak boleh masuk) didampingi dua orang memakai APD dan menyemprot lift  dan jalanan yg kita lalui hingga kita masuk mobil.

Hasil PCR baru keluar pada 9 Juli. Kabar baik dan juga kabar buruk. Kabar baik karena Nayla tidak terpapar tapi kabar buruknya adalah kami berdua tetap positif dan di mana Nayla harus tinggal?

Ada opsi Nayla tinggal di rumah nyokap di Cipinang, tapi saya tidak mau memberitahu Mama kalau anaknya positif. Nanti bisa jadi pikiran. Ke tempat adik gw di Cibubur, terlalu jauh dan lagi PPKM darurat juga.

Opsi lain, tetap di apartemen sendirian dan saya serta istri di tempat lain di apartemen yang disiapkan untuk isoman. Tapi opsi ini juga tidak kami pilih. Mana tega membiarkan Nayla sendirian selama 10-14 hari. Akhirnya keputusan yang diambil adalah Nayla tetap bersama kami.

Kami juga sengaja tidak bikin status di sosmed dan WA karena menjaga agar tidak ada kerabat yg baca dan memberitahu nyokap sama mami (waktu itu beliau sedang ngedrop karena sakit lambung dan ginjal hingga akhirnya  wafat 29 Juli 2021).

Rencananya kami akan beritahu mereka berdua kalau sudah sembuh. Saya dan istri tetap memberi tahu kakak adik adik kami, kantor, teman teman di beberapa grup (maaf kalau ada yg terlewat).

ISOMAN

Saat Isoman 
Saya dan istri isolasi di kamar dan Nayla menguasai ruang tamu dan tetap tidur di kamar dia. Kalau kami ingin keluar kamar untuk ke kamar mandi atau dapur, maka kami akan teriak dulu untuk minta Nayla masuk kamar. Semua yang kami pegang disemprot hand sanitizer.

Lalu, dimulailah hari-hari isolasi mandiri. Saya tidak bisa keluar dari unit selama isoman. Di pintu masuk unit kami ditempel tulisan ISOMAN seperti yang jadi foto tulisan. Itu artinya, tidak boleh ada yang keluar masuk unit dengan tulisan itu.

Kiriman makanan atau paket baik beli sendiri atau dari saudara dan teman semua di pool di satgas covid, mereka nanti yg antar. Harus sabar menunggu karena waktu itu ada 100 orang lebih yg terpapar (sekarang sudah sembuh semua), sampah pun ada petugas yg mengambil langsung ke unit yang isoman.

Saya termasuk beruntung karena hanya drop selama tiga hari. Batuk menggila selama tiga hari itu, nafsu makan juga hilang meski penciuman dan indra perasa tidak hilang. Tetap saja, nasi yang masuk ke kerongkongan tidak bisa banyak.

Istri saya lebih parah. Tulangnya sudah tidak sakit, penciuman dan rasa juga tidak hilang, tapi makan hanya sedikit karena selera anjlok semua rasa makanan jadi terasa maniiiis😁. Ditambah lagi nafasnya tersengal sengal kalau habis masuk kamar mandi atau bergerak sedikit.

Istri saya memang ada asma tapi terkontrol dan dia tahu nafas sesaknya bukan karena asma.  Ketika cek oxymeter muncul angka 88 dan langsung panik. Harus cari tabung oksigen.

Bukan hal yang mudah untuk bisa mendapatkan tabung oksigen. Tapi Allah SWT masih memberikan pertolongan. Kami berhasil mendapatkan pinjaman tabung oksigen dari Gerakan Tes Sejuta Antigen. Rasanya seperti menang lotere miliaran rupiah ketika tabung oksigen sudah berada di dalam kamar. Senangnya tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Tapi ternyata oksigen langsung habis. Keesokan pagi, mulai cari cari depo yang menjual oksigen. Setelah tanya kanan-kiri, baru sore hari mendapatkan depo yang ready stock oksigen. Lalu pertanyaan berikutnya, siapa yang akan ke depo tersebut? Saya tidak boleh keluar unit apartemen selama isoman.

Akhirnya dapat langganan tukang ojek online yang bersedia ambil tabung di apartemen, mengisinya di depo dan membawa balik lagi ke apartemen. Sepertinya Sang Maha Pencipta selalu memberikan jalan atas semua masalah yang kami hadapi ketika positif Covid-19.

Pagi, siang dan malam, istri memakai oksigen itu untuk meningkatkan saturasi. Sebelum dan sesudah selalu mengecek oxymeter. Kadang di atas 95 tapi lebih sering antara 90-94. It’s OK, perlu waktu untuk bisa menstabilkan saturasi.

Karena ada anak ABG yang tinggal dengan dua pasien positif, jadi saya harus memikirkan bagaimana kami bisa tetap makan makanan yang sehat setiap hari. Ketika itulah saya merasa sangat beruntung karena punya adik, kakak ipar dan teman-teman yang sangat perhatian.

Dari hari pertama mulai mengirim makanan, beras,  camilan, buah-buahan, vitamin, madu dan juga sayur-sayuran. Ketika delta ada di dalam tubuh, sama sekali tidak terpikir ingin makan apa. Jadi ketika ada teman yang tanya mau dikirimin apa, yang bisa saya jawab,”Kirim doa aja biar cepat sembuh.” Karena memang itu adalah keinginan utama kami. Soal mau makan apa, sungguh tidak terlintas di pikiran.

Karena saya yang cepat pulih, maka urusan domestik langsung saya ambil alih. Menghangatkan frozen food untuk makan sehari-hari, merebus sayuran dan juga mencuci piring serta baju kotor. Ada satu pasien, satu ABG dan juga saya yang harus makan setiap hari. Sarapan pagi kadang nasi telor ceplok, roti atau sesekali mie rebus.  

Menu makan siang biasanya dari frozen food yang dikirimkan oleh teman-teman. Sayurannya terong rebus atau labu rebus atau bayam rebus, sayuran segar ini juga kiriman sahabat istri. Maklum chef dadakan hanya bisa manasin frozen food dan rebus sayur. 

Saya sudah mulai lahap makan, tapi istri masih belum bisa makan banyak. Terkadang kami pesan makanan online dan diantar oleh satpam apartemen ke depan pintu. Oh iya, kami juga dapat makanan dari satgas di apartemen. 

Selama isoman, kami selalu memakai masker. Sambil terus berdoa bisa diberikan kepulihan dan Nayla tidak tertular. Mau tahu apa yang saya rasakan ketika awal-awal ditemani varian delta? Cepat lelah dan mengantuk. Tiga hari pertama setelah dinyatakan positif, saya tidur jam 8 malam, bangun jam 4.00 pagi. Ini rekor tidur terlama dalam tiga dekade terakhir, sepertinya.

Ini belum ditambah tidur siang yang bisa 2 jam lebih. Jadi total saya tidur sekitar 10 jam tiap hari. Entah kenapa badan seperti minta istirahat lebih cepat dan saya menuruti keinginan itu.

Ternyata, bedrest itu bisa memulihkan kondisi saya lebih cepat. Kerongkongan pahit dan batuk parah hanya bertahan tiga hari. 

Selain bedrest, saya juga mengonsumsi obat-obatan yang disarankan oleh dokter di aplikasi telemedisin serta vitamin. Kombinasi bedrest serta obat dan vitamin, plus sudah divaksin dua kali sepertinya menjadi faktor yang membuat delta tidak betah berlama-lama di badan.

Meningkatkan imun memang jadi upaya yang saya lakukan selama isoman. Tidak baca berita tentang C-19 di media online dan juga TV juga salah satu cara untuk menjaga imun tidak drop. Termasuk mengurangi bahkan tidak membuka sama sekali media sosial. Karena, ketika itu isinya hanya berita duka atau teman yang positif. Sangat tidak menyenangkan.

Pada 21 Juli atau satu hari setelah Idul Adha, kami bertiga memutuskan untuk tes antigen. Saya dan istri sudah yakin hasilnya negatif karena tidak ada gejala lagi. 

Namun, kami khawatir dengan Nayla, yang 14 hari tinggal bersama pasien Covid-19. Ketika hasil tes keluar, kami langsung mengucapkan syukur kepada Allah SWT karena Nayla negatif, begitu juga dengan istri dan saya.

Kami berhasil mengusir tamu tak diundang yang sudah merenggut nyawa jutaan orang di Indonesia. Proses isolas mandiri selama 14 hari akan menjadi bagian dari perjalanan hidup kami. Ada banyak pelajaran yang bisa kami ambil selama isoman.

Pertama, berpikir positif menjadi hal yang sangat krusial ketika pertama kali dinyatakan positif. Bepikir akan meninggal karena positif C-19 hanya akan membuat imun tubuh menurun. Kami hanya bisa pasrah dan tentu berikhtiar agar bisa pulih.

Kedua, bantuan dan dukungan dari teman-teman menjadi moral booster bagi kami berdua. Doa dan juga makanan serta vitamin yang terus mengalir hingga selesai isolasi mandiri punya andil membuat kami tetap semangat agar bisa sembuh.

Ketiga, vitamin dan obat-obatan juga bisa mempercepat proses pemulihan. Tetapi, harus waspada dengan obat-obatan yang akan diminum. Lebih baik konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat-obatan. Jangan meminum obat hanya karena rekomendasi seseorang yang bukan dokter. 

Keempat, vaksin bisa mencegah  dampak buruk dari C-19. Saya sudah dua kali vaksin dan istri belum (dua kali gagal vaksin karena tensi tinggi) serta ada penyakit asma. Ini kemungkinan yang membuat proses recovery saya bisa lebih cepat dibandingkan istri. 

Setelah negatif, varian delta sepertinya masih meninggalkan jejak di badan saya. Tubuh cepat lelah dan nafsu makan melonjak gila-gilaan. Tetapi tak apa, saya bersyukur bisa melalui masa isoman dengan lancar. Saya tidak menyangka kasus positif sempat tembus di angka 50 ribu ketika isoman.

Karena itu, buat yang belum divaksinasi, segera lah divaksinasi. Virus C-19 ini nyata, bukan khayalan semata. Vaksinasi terbukti bisa memperkuat imun dan membuat varian delta tidak betah di badan.

Tidak perlu harus positif terlebih dahulu untuk merasakan “tidak enaknya” dikunjungi delta. Ingat kalimat ini, lebih baik mencegah daripada mengobati? Di masa pandemi ini, lebih baik sehat daripada sakit karena C-19.

Last but not least, terima kasih atas bantuan, dukungan dan juga doa dari teman-teman semua. Pandemi belum akan berakhir dalam waktu dekat, jadi tetap terapkan protokol kesehatan. Salam sehat untuk semuanya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Lagi

Aishah

Susu Segar Hometown Dairy Bikin Zuppa Soup Semakin Enak