Sri Irdayanti Mencetak Orang Sukses dengan “Modal Dengkul”
Film bisa mengubah jalan hidup sesorang. Itulah yang dialami Sri Irdayati. Dia terinspirasi dari film kartun Richie Rich, bocah miliuner dari Amerika Serikat. Film ini menceritakan bagaimana Richie seorang anak kaya sejak kecil hidupnya sudah mengenal dunia bisnis sehingga Richie fasih sekali berbicara tentang pergerakan saham tapi dia tidak kehilangan kehidupan bermain dalam masa kecil.
Irda, panggilan Sri Irdayanti, membuat kelas bisnis untuk pemula yang pesertanya adalah bocah cilik di rumahnya. Kelas bisnis itu gratis alias tidak dipungut biaya.
Irda yang lulusan Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, ini membuka kelas bisnis di Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
“Bukan hal mudah mengajarkan tentang bisnis kepada anak-anak tapi saya berpikir dunia usaha dan manajemen perlu diajarkan sejak dini,” ungkap Irda.
![]() |
| Sri Irdayanti (foto: Data Tempo) |
Mereka berkolaborasi menuangkan idenya sekolah bisnis untuk anak dengan tema besar “Education for Indonesia”. Sub tema yang ingin diwujudkan tentang belajar kewirausahaan bukanlah belajar mencari uang, tetapi melatih kemandirian anak dengan melakukan usaha sejak kecil.
Saat itu modal mereka untuk membuat kursus tidak ada hanya berdasarkan modal dengkul saja. Setelah selesai membuat kurikulum, mereka mensosialisasikan program itu ke-40 sekolah dasar, menengah pertama dan menengah atas di Semarang.
Ketika proposal itu diajukan, pihak sekolah langsung menolaknya. Alasan penolakan adalah “Belum waktunya anak-anak belajar mengenai bisnis, nanti mereka akan jadi matre.”
Namun, nasib baik masih menghampiri Irda. Saat itu, Institut Teknologi Bandung mengadakan lomba Innovative Entrepreneurship Challenge pada tahun 2007. Keempat mahasiswi ini mengikuti Lomba tersebut dengan mengajukan proposalnya. Mereka berhasil meraih gelar juara I dan memperoleh hadiah uang Rp.15 juta sebagai penghargaan atas kemenangannya.
Uang hadiah inilah menjadi modal dasar mereka untuk biaya operasi. Tidak surut dengan penolakan, mereka tetap mencoba berusaha untuk mendatangi kantor Wali Kota Semarang dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dengan bekal kemenangan dari ITB dan surat dari pihak Rektorat Undip. Mereka akhirnya berhasil untuk mendapat izin mengajar dua jam kelas pengantar bisnis di sekolah.
Ketika pre-test dilakukan dengan memberikan pertanyaan : “Tertarikkah kalian dengan pelajaran bisnis?” Jawaban mereka serentak kompak: “Tidak”. Waduh harus putar otak nih biar mereka tertarik.
Strategi lain pun dijalankan oleh Irda. Praktek tentang bisnis dengan membekali sejumlah uang dan membeli sesuai kebutuhannya. Apa yang telah dibeli itu diminta untuk dijual kembali. Lalu mereka membawa hasil jualannya. Dihitung berapa keuntungan dari hasil jualan mereka. Itulah post-test atas pertanyaan tentang pelajaran bisnis.
![]() |
| Suasana kelas (foto: Data Tempo) |
Para peserta kelas bisnis ini dipanggil dengan nama Bos. Bos ini merupakan singkatan dari “bakal orang sukses”. Alasan kuat dari Sri Irdayanti untuk terus memperkenalkan dan mengembangkan ilmu bisnis untuk generasi muda agar supaya anak-anak Indonesia bisa percaya diri dan mandiri sejak dini terutama dalam bisnis atau kewirausahaan.
Berkat kerja kerasnya ini Sri Irdayanti mendapat penghargaan “Satu Indonesia Award” yang diadakan oleh Astra pada tahun 2010 dengan hadiah uang sebesar Rp.40 juta dalam Bidang Wirausaha dengan judul “Miliuner Baru”


Komentar
Posting Komentar