Ratna Indah Kurniawati, Melawan Stigma Kusta sebagai Kutukan

Ratna Indah Kurniawati belum bisa melupakan kejadian yang menimpa Somat, warga Kabupaten Pasuruan, beberapa tahun lalu. Ketika itu, Somat yang berusia 65 tahun menderita kusta yang cukup parah.

Kaki dan tangannya penuh borok hingga membusuk hingga melumpuhkan saraf kakinya. Kondisi ini membuat Somat dikucilkan oleh keluarganya. Istrinya “membuang” Somat ke rumah anaknya.

Nasib Somat tidak lebih baik. Sang anak juga tidak mau mengurus Somat.

“Bilang begini, Anakku kalau lihat bapak langsung muntah. Nggak mau makan,'” ujar Indah mengulang cerita yang disampaikan Somat.

Somat akhirnya diinapkan di sebuah gubug di pematang ladang yang jauh dari permukiman. Sang anak mengirimkan Somat makanan setiap hari. Indah sempat menawarkan kepada keluarganya agar Somat dirawat di rumah sakit kusta di Mojokerto. Keluarga sempat setuju namun tidak ada satu pun keluarga yang mau menunggui Somat di rumah sakit. Somat akhirnya kembali tinggal di gubug di pematang ladang hingga ajal menjemput.

Indah tak ingin kasus yang menimpa Somat dialami oleh warga lainnya. Dia memutuskan untuk berkeliling ke-9 desa di wilayah kerja Puskesmas Grati untuk menjemput warga yang dikucilkan karena penyakit kusta. Para penderita kusta di wilayah itu memang dianggap wabah.

Ratna Indah (Foto: TEMPO)
“Stigma penderita kusta adalah wabah dan juga kutukan adalah hal yang harus dilawan. Para penderita kusta itu tidak hanya mengalami kesakitan secara fisik tetapi juga mental,” kata Indah.

Kusta adalah sebuah penyakit yang menyerang syaraf dan kulit manusia. Pada tingkat yang sudah parah, penyakit ini dapat mengakibatkan lepasnya anggota tubuh tanpa rasa sakit.

Kusta masih menjadi salah satu penyakit yang banyak diderita masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati peringkat ketiga kasus kusta terbanyak hingga 2020 lalu.

Pemberantasan penyakit kusta memang masih terus menjadi PR bagi Indonesia. Kementerian Kesehatan RI mencatat, berdasarkan data per 24 Januari 2022, tercatat sebanyak 13.487 kasus kusta aktif, dengan penemuan baru sebanyak 7.146 kasus.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, masih ada enam provinsi di Indonesia yang masih belum bisa mengeliminasi kusta. Keenam provinsi itu diantaranya Papua Barat, Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat. Prevalensi kusta di enam provinsi tersebut masih lebih dari 1 per 10 ribu penduduk. Artinya, dari setiap 10 ribu penduduk di daerah tersebut, ada satu warganya yang menderita kusta.

Menjadi perawat sejak 2004, Indah yang lahir pada 23 April 1980 bertugas sebagai perawat dan pengelola program kusta di Puskesmas Grati. Indah mendata ulang penderita kusta di wilayah kerjanya, yang mencakup 9 desa. Ia menghubungi mereka satu demi satu untuk mengetahui status terbaru penyakit mereka.

Ratna Indah (foto: TEMPO)
Indah tidak hanya memberikan bantuan pengobatan dan pengetahuan kesehatan kepada para penderita kusta. Ia juga mengadakan pendekatan serta perhatian sosial kepada para mereka.

Bukan itu saja, Indah juga membimbing para penderita kusta untuk terus dapat menjalani hidup secara mandiri tanpa harus terbebani stigma yang ada di masyarakat. Dalam beberapa kasus, ia memberikan berbagai pelatihan dan motivasi agar para penderita kusta dapat menjalankan bisnisnya sendiri. Indah memantapkan seluruh upayanya ini pada Kelompok Perawatan Diri (KPD) yang dibinanya.

Indah mengakui, hampir semua perangkat desa antisipasi terhadap penyakit ini karena dianggap sangat berbahaya dan menular. Agar bisa diterima oleh masyarakat, Indah mengambil langkah edukasi yang cukup ringan namun membawa pesan yang mendalam.

Saat KPD melangsungkan sebuah pertemuan, ia dan kelompoknya makan bersama para penderita kusta. Langkah ini sebetulnya sangat sederhana namun nyatanya ampuh menyentuh sisi percaya masyarakat.

Dengan melihatnya makan bersama, penduduk kemudian lebih percaya hingga akhirnya langkah tersebutlah yang perlahan-lahan mengembalikan lagi derajat para penderita kusta.

Berkat kesabarannya, Indah berhasil mendapat tempat untuk penyuluhan penyakit kusta di berbagai tempat, seperti di balai desa, sekolah, termasuk di antaranya pondok pesantren demi mencapai mimpi untuk menekan angka penyebaran dan jumlah kasus penderita kusta serta melakukan pencegahan sedini mungkin.

Ratna Indah (Foto: Warta Bromo)
Jerih payahnya melawan stigma kusta sebagai kutukan membuat Indah menerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia awards 2011. Apa yang dilakukan Indah merupakan bukti bahwa kerja keras tanpa kenal lelah bisa membantu memberikan pemahaman yang lebih lengkap kepada masyarakat tentang penyakit kusta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Lagi

Aishah

Susu Segar Hometown Dairy Bikin Zuppa Soup Semakin Enak