Noviyanto, Mengubah Overpoduksi Susu Sapi di Boyolali Menjadi Keju

 Kabupaten Boyolali dikenal sebagai sentra penghasil susu sapi terbesar di Jawa Tengah. Mata pencaharian masyarakat  yang rata-rata berprofesi sebagai peternak sapi perah, menjadikan kapasitas produksi susu sapi  bisa mencapai angka 110 ton setiap hari.

Namun, harga susu yang fluktuatif di daerah ini menjadi faktor utama kesulitan para petani peternak. Koperasi Unit Desa  yang menampung susu segar dari petani peternak tak mampu menjualnya kembali ke industri pengolahan susu, karena pasarnya sudah jenuh. Akibatnya, banyak susu yang terbuang. Suatu aktu, KUD pernah mereka membuang susu sampai 200 liter per hari karena over produksi.

Melihat fenomena ini, Noviyanto,  terinspirasi mengolah susu hasil ternak sapi perah. Ia kemudian menginisiasi pendirian Koperasi Unit Desa yang bidang usahanya khusus membuat keju.

Noviyanto (foto: Tribunnews)
Sebelumnya, Noviyanto terlibat di Lembaga Donor Pemerintah Jerman bernama Deutscher Entwicklungsdient (DED) yang saat itu terjun ke Kabupaten Boyolali untuk memberikan pelatihan bagi peternak sapi mengenai pemanfaatan hasil susu.

Ketika itu, Noviyanto adalah asisten seorang ahli produksi olahan susu dari Jerman, Benjamin Siegl yang merupakan tenaga ahli dari Deutscher Entwicklungsdienst (DED). DED adalah lembaga pemerintah Jerman yang membantu usaha atau proyek kecil di dunia. Tugas Benjamin Siegl dan Noviyanto mencari solusi terkait pengelolaan susu Boyolali.

Pengalaman inilah yang kemudian menguatkan tekad Noviyanto untuk merintis pabrik keju lokal di seputaran Kabupaten Boyolali. Pabrik itu diberi nama Indrakila,  yang merupakan tempat Arjuna berdoa sebelum perang melawan Kurawa.

“Jadi inti dari pemakaian nama Indrakila adalah sebagai tempat untuk berdoa. Usaha pembuatan keju ini adalah bagian dari doa saya,” kata Noviyanto.

Noviyanto mengumpulkan dana sekitar Rp 500 juta dari 19 orang investor untuk membangun pabrik keju di Dukuh Karangjati, Karanggeneng, Boyolali,  Jawa Tengah.  Pabrik ini mampu memproduksi setidaknya 50 kilogram keju per hari. Saat ini keju Indrakila sudah mempunyai 9 varian, beberapa di antaranya seperti mozzarella fresh, mozzarella kuning, feta olive oil, feta chili, mountain chili, dan boyobert.

Pabrik Keju Indrakila (foto: Tribunnews)
Ada alasan kenapa Noviyanto dan Siegl memilih keju sebagai produk turunan dari susu. Makanan ini memiliki unsur susu paling banyak dan selalu dibutuhkan oleh pengusaha kuliner. Keduanya juga mengusulkan, pemda membuat satu unit usaha baru pengelolaan susu.

Pada awal produksi, Noviyanto hanya mampu mengolah 20 liter susu. Seiring berjalannya waktu, jumlah tersebut terus meningkat hingga saat ini, Noviyanto sukses mengolah 1000 liter susu.

Ketiga Siegl memutuskan kembali ke Jerman pada 2010, Noviyanto tetap melanjutkan Pabrik Indrakila.

“Pembeli keju di antaranya pemilik restoran atau hotel yang membutuhkan keju sebagai bahan masakan, terutama kalangan ekspatriat di Bali dan Yogyakarta. Kelebihan keju lokal buatan Indrakila memakai bahan baku 100 persen susu sapi sehingga tahan lama bila disimpan di lemari es,” jelas Noviyanto.

Selain itu, rasa kejunya lebih segar dan berbeda karena dibuat dengan susu lokal. Rasa inilah yang disukai kalangan ekspatriat. Ada beberapa jenis keju yang diproduksi Indrakila, yaitu mozarella, feta, mountain, mountain chili, feta black pepper, feta olive oil, dan boyobert.

Jangkauan pasar keju buatan Indrakila telah berkembang hingga Pulau Bali, Semarang, Yogyakarta, dan Kota Solo. Dengan dibandrol berkisar antara Rp 85.000-Rp 135.000 per kg, Indrayanto bisa mengantongi omzet minimal Rp 60 juta dalam sebulan.

Keju produksi Pabrik Indrakila
Dulu, pabrik keju Indrakila yang semula hanya mempekerjakan satu karyawan, kini telah bertambah menjadi sembilan orang dan semuanya warga Boyolali. Ikut memberdayakan warga sekitar memang menjadi satu keinginan Noviyanto saat kali pertama merintis Pabrik Keju Indrakila.

Inisiasi Noviyanto mendirikan pabrik keju di Boyolali sekaligus memberdayakan warga sekitar membuat dirinya meraih penghargaan SATU Indonesia Award dari PT Astra International.

Noviyanto berharap suatu saat nanti keju lokal bisa lebih diterima masyarakat Indonesia sehingga bisa memajukan perekonomian para peternak sapi perah di Boyolali. Tidak ada lagi cerita, susu sapi yang dibuang ke sungai karena kelebihan produksi dan diharga  sangat murah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Lagi

Aishah

Susu Segar Hometown Dairy Bikin Zuppa Soup Semakin Enak