In Loving Memories of McDonald’s Sarinah Thamrin
Puluhan orang berdiri di seberang pintu masuk McDonald’s Sarinah, Thamrin, sekitar pukul 19.30 WIB, Minggu (10/5). Mereka sibuk dengan telepon genggam di tangan yang digunakan untuk mengambil foto.
Ada yang swafoto, ada juga yang mengambil foto teman atau anggota keluarganya dengan latar belakang tulisan besar McDonald’s.
Mereka tidak tergesa-gesa untuk masuk ke restoran cepat saji tersebut untuk memesan makanan. Manager on duty terlihat sibuk mengingatkan satpam untuk mengatur pengunjung yang akan masuk agar tetap menjaga jarak.
Mengikuti anjuran pemerintah soal physical distancing selama pandemi Covid-19, manajemen McDonald’s Sarinah Thamrin membuat garis merah di arah menuju pintu masuk. Garis merah itu digunakan sebagai jarak antara satu pengunjung dengan pengunjung lainnya.
Pengunjung yang akan masuk juga dibatasi. Ketika sudah ada pengunjung di dalam yang mendapatkan makanan, baru pengunjung di luar diperbolehkan masuk. Tidak ada bangku di restoran cepat saji tersebut. Semua pesanan hanya bisa untuk take away.
Sambil antre, pengunjung yang akan masuk tetap sibuk mengambil foto. Karena mereka semua tahu, malam itu adalah momen terakhir bisa melihat “signage” McDonald’s di depan Gedung Sarinah, Thamrin. Tapi saya gak ikutan selebrasi pas penutupan gerai ini, karena Kami bertiga sudah pulang dari pukul 20.15,
Minggu malam pukul 22.05, restoran cepat saji itu akan dirobohkan. Tentu bukan karena McDonald’s bangkrut akibat pandemi Covid-19. Ini karena ada perubahan format dari pusat perbelanjaan Sarinah, yang akan menjadi Galeri UMKM Nusantara. Berakhir sudah perjalanan restoran pertama McDonald’s di Indonesia tersebut.
Hampir 30 tahun, McDonald’s berdiri dengan megah di kawasan segitiga emas tersebut. Merek McDonald’s memang sudah mendunia, namun baru masuk ke Indonesia pada Februari 1991.
Tempat ini menyimpan banyak kenangan, bukan hanya saya tetapi tentu juga hampir sebagian besar warga Jakarta. Khususnya yang menjadi ABG di era 90-an. Masih ingat dalam bayangan, kunjungan pertama ke restoran cepat saji tersebut.
Masih dengan pakaian seragam SMA bersama dengan sejumlah teman. Kunjungan tersebut sudah direncanakan sejak satu minggu sebelumnya. Tujuannya hanya satu, mencoba BigMac. Kenapa harus direncanakan jauh-jauh hari?
Karena harga BigMac ketika itu lumayan mahal untuk ukuran pelajar SMA, jadi harus menyisihkan uang jajan beberapa hari. Ketika uang sudah terkumpul, baru berani menjejakkan kaki di restoran fast food tersebut.
Ternyata, tidak mudah untuk bisa memakan BigMac. Jangan bandingkan BigMac saat ini dengan BigMac ketika pertama kali dijual di McDonald’s. Waktu itu, BigMac benar-benar big sehingga untuk langsung masuk ke mulut perlu upaya khusus.
BigMac ini burger yang berisikan dua lapis daging dilengkapi dengan sayuran dan juga saus pelengkap. Ketika itu, BigMac disajikan dengan kotak khusus yang bertuliskan BigMac.
Karena kesulitan, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil roti paling atas dengan daging paling atas untuk dimakan pertama kali. Setelah itu baru daging paling bawah dengan roti paling bawah.
Jangan tanya bagaimana respon teman saya melihat adegan tersebut. Mereka tertawa terbahak-bahak. Tak apa, yang penting tujuan untuk menikmati BigMac kesampaian.
Itulah pengalaman pertama menjadi pengunjung McDonald’s Sarinah, Thamrin. Setelah itu, restoran ini seperti menjadi tempat persinggahan rutin, minimal sebulan sekali.
Mulai dari pacaran, janjian ketemu teman, rapat hingga hanya sekadar duduk melepas penat sambil makan ice cream cone.
Oh ya, McDonald’s Sarinah Thamrin ini juga menjadi restoran cepat saji pertama yang buka 24 jam (ketika itu hanya Sabtu dinihari dan Minggu dinihari). Sempat terlintas di pikiran, apa iya ada orang yang mau makan dinihari di restoran fast food.
Ternyata, full house. Sebagian besar pengunjung dari tengah malam hingga dini hari adalah anak-anak muda. Saya juga sempat merasakan manfaat McD buka 24 jam ini saat kuliah. Ketika itu, saya yang kuliah di Bandung akan nonton konser di Ancol (entah Bon Jovi, Phil Collins atau Def Leppard).
Berangkat dari Bandung Sabtu siang dan sore sampai di Ancol (ketika itu belum ada tol Cipularang). Usai nonton konser sudah tengah malam dan perut keroncongan. Akhirnya saya dan beberapa teman memutuskan untuk nongkrong sejenak di McD Sarinah. Sepotong burger, kentang goreng dan cola sudah cukup untuk mengganjal perut pada tengah malam.
Ketika sudah menjadi seorang ayah, saya juga mengajak putri saya ke McDonald’s Sarinah Thamrin. Di resto ini dia pertama kali memesan paket Happy Meal yang berhadiah mainan. Saya juga bercerita bahwa di resto ini dulu Papa dan Mama pacaran 😊
Terlalu banyak kenangan yang diberikan McDonald’s Sarinah Thamrin kepada saya. Memang, ini bukan kali pertama restoran ini tutup. Pada 2009, McDonald’s Sarinah juga sempat “hilang” dan digantikan Tony Jack. Namun, pada 2011, McDonald’s kembali lagi hadir.
Kali ini, McDonald’s akan pergi selamanya. Sulit untuk menghapus semua memori tentang restoran cepat saji ini. Yang pasti, semua terekam dengan rapi di etalase yang ada di dalam otak.
Mengutip salah satu lirik lagu dari grup musik rock di era 90-an, Slaughter: “Memories Never Fade as You’re Watching all Your Days Go By”





Komentar
Posting Komentar