Bret Michael

Bukan Brad Pitt, tetapi Bret Michael. Dia vokalis grup musik rock, Poison yang ngetop di akhir 80-an. Gw pertama kali denger suara Bret ketika salah satu radio swasta di Jakarta memutar lagu "Everyrose has its thorn".

Langsung jatuh cinta sama suara Bret. Penasaran pengen lihat mukenya kayak apa. Beruntung, majalah HAI mengulas profil Poison, yang mendunia sejak lagu itu jadi nomor 1 di Billboard Hot 100.
Dari google
Dulu, kita - atau paling enggak gw lah - cuma bisa denger lagu di radio dan masih susah buat lihat video klip dari lagu itu. Ketika lahir TV swasta pertama di Indonesia - tahu lah pasti namanya - gw akhirnya bisa lihat video klip Everyrose has its thorn dan lihat Bret and co, beraksi di atas panggung.

Setelah lihat video klip itu, gw langsung mencari album Open Up and Say Ahh... di Duta Suara (entah masih ada yang ingat gak dengan nama ini). Fallen angel jadi lagu favorit kedua gw di album ini. Lagu lainnya juga gak kalah oke seperti remake Your Mama Dont Dance dll.
Intinya, sejak itu gw jatuh hati sama grup musik yang kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, namanya Racun.

Sekitar 1990, Bret and co merilis album baru lagi, Flesh & Blood. Single pertama yang dirilis judulnya Unskinny Bop, entah apa artinya waktu itu gw gak tahu hahahahahaa.

Karena sudah ada TV swasta, gw bisa lihat video klip Unskinny Bop di acara Rocket, yang tayang tiap Sabtu sore dan juga di America's Top 10 (feeling old?).

Ketika Flesh and Blood sudah masuk ke Indonesia, gw langsung berburu ke Duta Suara (lagi). Kenapa harus Duta Suara? Karena waktu itu gw sekolah di Cikini dan Duta Suara di jalan Sabang, jadi lumayan deket.

Dengerin satu album, gw memutuskan album ini lebih bagus dari Open Up and Say Ahh. Tetap ada satu lagu balada yang dimasukin Bret and co di album ini, judulnya Something to Believe In.

Something to Believe In bercerita tentang veteran perang Vietnam yang kehilangan semuanya ketika kembali lagi ke Amerika, termasuk kehilangan harapan untuk hidup. Lagu ini gak sesukses Everyrose has its thorn, cuma bisa sampai nomor 5 di Billboard Hot 100. 

Tapi pesan dari lagu ini bagus banget, cocok dengan situasi ketika itu di mana AS tengah berperang melawan Irak.

Setelah Flesh and Blood, Poison sempat vakum beberapa tahun. Pada 1992 ngeluarin Greatest Hits dengan dua lagu baru, So Tell Why dan Only Time Will Tell. Albumnya so so tapi lumayan melepas rindu hahahaaa.

Baru pada 1994, Poison bikin album baru lagi, judulnya Native Tongue. Dan, Stand jadi single pertama mereka. Agak unik, musik rock digabungkan dengan paduan suara berbau R&B. But, I liked it. Di album ini, Poison kedatangan personel baru, Richie Kotzen yang kata media di Amrik, gak kalah ganteng dari Bret.

Native Tongue jadi album terakhir Poison yang gw beli. Agak mengecewakan album ini, di luar ekspektasi gw. Apa pun, gw tetap suka sama suara Bret. Pagi ini, gw bikin note di atas TransJakarta sambil mendengarkan lagu Stand.

"You know you got to stand, stand for what you believe...."

Jakarta 25 Juli 2019

-ddr-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Lagi

Aishah

Susu Segar Hometown Dairy Bikin Zuppa Soup Semakin Enak