Seorang Pemimpin Bernama: Ahok (Spolier Alert)

“Orang miskin kalah melawan orang kaya. Orang kaya kalah melawan orang yang punya kekuasaan. Kamu harus jadi pemimpin sehingga bisa menggunakan krekuasaan yang kamu punya untuk menyejahterakan warga di kampong ini.”

Pesan itu disampaikan Kim Nam kepada salah satu anaknya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sang ayah yang dipanggil dengan nama Tauke alias bos besar oleh warga Belitong sudah patah arang menghadapi orang-orang yang kerjanya memeras.
Bukan itu saja pesan yang disampaikan Kim Nam kepada Ahok dan juga anaknya yang lain. Dia juga menekankan arti pentingnya keluarga dalam kehidupan di masa yang akan datang.

“Kalau kamu ingin berburu macan, ajak lah saudara kandungmu. Karena, saudara kandung mu tidak akan meninggalkanmu ketika sudah bertemu macan. Apabila dia meninggalkanmu, maka dia akan kehilangan dirimu,” ujar Kim Nam.

Maksud dari pesan itu adalah, dalam situasi sesulit apa pun, saudara kandung serta keluarga tidak akan pernah pergi begitu saja.

A Man Called Ahok memang ingin menampilkan bagaimana kehidupan mantan Gubenur DKI Jakarta itu sejak kecil. Ahok adalah sosok yang keras kepala dan selalu berpegang teguh pada pendiriannya. Dia tidak mau melanggar aturan demi kepentingan dirinya sendiri.

Di film A Man Called Ahok, Anda bisa tahu darimana Ahok mendapatkan semua sifat itu. Sang Papa lah yang mengajarkan semua itu kepada Ahok dan juga adik-adiknya.

Kim Nam alias Tauke (sebutan ayah Ahok) adalah pengusaha timah di Belitong. Di era 70-an, timah menjadi sumber pendapatan daerah terbesar di wilayah itu. 

Tidak heran, warga di kota Belitong hingga Gantong selalu meminta bantuan kepada Tauke apabila punya masalah, yang sebagian besar terkait finansial.

Sikap Tauke yang ringan tangan membantu warga ini sempat diprotes sang istri. Dengan santai, Tauke menjawab,” Kita kan tidak pernah kekurangan. Kamu selalu bisa menghidangkan makanan enak untuk kami semua. Kalau sekarang kita tidak pegang uang, tidak usah khawator karena rezeki sudah ada yang mengatur". 

Stok timah yang mulai menipis memengaruhi perekonomian kota Beliting dan juga Tauke. Hingga pada satu titik, Tauke tak bisa memberikan uang kepada seorang ibu yang harus membawa putrinya ke bidan untuk melahirkan. Ahok melihat bagaimana sang Papa menangis karena tak bisa membantu.

Hingga selang beberapa tahun kemudian, sang ibu tersebut datang ke apotek yang baru dibuka Tauke dan dikelola oleh istrinya. Sang ibu berterima kasih atas bantuan yang diberikan beberapa tahun lalu sehingga anaknya bisa melahirkan dengan selamat. 

Sang ibu juga minta maaf karena tak bisa mengucapkan terima kasih secara langsung dan hanya menyampaikan lewat Ahok.
Momen itu membuat Tauke bangga, karena Ahok meniru apa yang dia lakukan selama ini, membantu orang yang tidak mampu. 

Meski sang ibu tidak terlalu suka Ahok meniru sikap sang Papa. “Kamu nanti akan punya banyak utang seperti Papamu, kalau semua orang itu kamu bantu,” kata sang Ibu yang hanya dibalas senyum oleh Ahok.

Basuki Tjahaja Purnama banyak mendapat pelajaran tentang kehidupan dari sang Papa. Tauke tidak terlalu bangga ketika Ahok memamerkan ijazah S2 yang baru diraihnya di Jakarta. 

Sang Papa hanya punya keingian, Ahok menerapkan semua ilmu yang didapatnya di Jakarta untuk membantu warga Belitong.

A Man Called Ahok juga menggambarkan bagaimana asal mula Basuki Tjahaja Purnama masuk ke politik. Niatnya hanya satu, menyejahterakan warga Belitung Timur dan sekaligus memenuhi janjinya kepada Sang Papa.

Perjalanan Ahok di politik dimulai sebagai anggota DPRD Belitung Timur. Karena merasa tidak terlalu banyak melakukan perubahan, Ahok maju sebagai calon Bupati. Menjadi etnis Tionghoa merupakan hambatan tersendiri ketika itu. 

Sikapnya yang keras kepala membuat Ahok pantang mundur dan akhirnya terpilih sebagai Bupati. Ahok sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin.

Di film, sang Papa meminta dia untuk jadi Bupati. Di dunia nyata, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sempat berseloroh, Ahok akan menjadi Gubernur Jakarta. Itu dilontarkan Gus Dur ketika Ahok masih menjadi anggota Komisi II DPR RI dan belum banyak yang mengenal namanya.
Ketika sudah menjadi Gubernur Jakarta, Ahok meniru apa yang dilakukan Sang Papa, membantu warga yang membutuhkan pertolongan. Setiap pagi, sebelum memulai pekerjaannya di Balai Kota, Ahok menerima sejumlah warga yang datang untuk mengadu.

Semua aduan itu tidak hanya ditampung tetapi langsung diselesaikan oleh Ahok. Ahok juga sosok yang tak bisa disuap dan benci terhadap praktik korupsi.

Di film, Ahok yang masih menjadi anggota DPRD Belitung Timur menolak untuk menandatangani form perjalanan dinas. Alasannya sederhana, karena dia tidak pernah melakukan perjalanan dinas jadi dia tak mau menanatangani form tersebut.

Ahok juga bukan sosok yang berharap dibela mati-matian ketika tengah mengalami masalah. Saat dipindahkan ke Rutan Mako Brimob karena menjadi terpidana kasus penistaan agama, Ahok meminta pendukungnya untuk tidak melakukan unjuk rasa di depan Rutan Mako Brimob.

“Saya terima kasih atas dukungan yang kalian semua berikan. Tetapi melakukan unjuk rasa justru akan mengganggu masyarakat lain karena akan menumbulkan kemacetan.

Jadi, saya minta kalian semua pulang ke rumah. Gusti Ora Sare,” kata Ahok lewat sebuah surat yang ditulisnya dari dalam sel di Rutan Mako Brimob.

Ahok adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Dia sudah minta maaf kepada umat Islam di Indonesia terkait kasus penistaan agama. Ahok juga sudah menjalani hukuman penjara atas tindakannya itu.

Tidak lama lagi, Ahok akan keluar dari penjara. Sejak kecil, Ahok sudah ditakdirkan untuk melayani masyarakat. Dia sudah melakukannya di Belitung Timur ketika menjadi Bupati dan di Jakarta saat menjadi Wakil Gubernur dan Gubernur Jakarta.

Mungkin, sudah saatnya Ahok melayani masyarakat yang lebih besar lagi yaitu Indonesia. Korupsi masih menjajah Indonesia yang membuat banyak warga berada di bawah garis kemiskinan.

Ahok memang tidak bisa seorang diri membasmi korupsi dari negeri ini. Tetapi, Ahok bisa membuat orang untuk berpikir 1.000 kali sebelum melakukan korupsi.

Ahok tidak bisa disuap dan tidak mau korupsi. Sebuah kriteria yang sangat diperlukan untuk menjadi pejabat publik di negeri ini. Siapa pun yang menjadi Presiden RI pada 2019 nanti, Ahok bisa membantu memberikan perubahan ke arah yang lebih baik.

Menyaksikan A Man Called Ahok akan membuat Anda memahami arti penting keluarga. Nilai-nilai kehidupan mengalir di darah Ahok lewat keluarga.

Lewat film ini juga, Anda bisa melihat bagaimana kerja keras Ahok untuk meraih cita-cita serta mimpinya. Karena itulah, penjara tidak akan membuat Ahok terpuruk.

Ahok akan kembali bersinar seperti purnama yang menyinari malam hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Lagi

Aishah

Susu Segar Hometown Dairy Bikin Zuppa Soup Semakin Enak