Misteri Ilahi

Sepertinya, tidak akan pernah ada yang tahu kapan ajal akan datang menjemput. Dari kecil, guru agama gw bilang, semua bayi yang lahir sudah ditentukan oleh Allah SWT kapan ajal akan menjemput. Karena itu, pesan guru agama itu, kita harus selalu siap ketika malaikat maut datang menghampiri.

Tapi, tetap saja sulit untuk diterima, apabila akhirnya malaikat maut menjemput seseorang, yang gw sayang. 27 tahun lalu, malaikat maut menjemput bokap, hanya satu hari setelah menjalani transplantasi ginjal di RS PGI Cikini.

Kemarin, gw kembali lagi ke rumah itu. Kali ini, malaikat maut memisahkan gw dengan salah satu teman baik gw di masa-masa kuliah dulu. Namanya Yugama Muchtar, teman kecilnya memanggil dengan sebutan Deden. Gw cukup dengan kata Gam.
Anaknya baik, murah senyum dan tidak pernah marah. Aksen Sunda nya sangat kental ketika berbicara pertama kali sama gw dengan menggunakan bahasa Indonesia. Gama senang menggoda perempuan dan juga memuji langsung dengan bilang,” Kamu cantik deh.”

Awalnya, gw agak risih juga, tapi lama-lama jadi terbiasa. Karena itulah Gama, suka berbicara apa-adanya. Kami sama-sama mengambil jurusan Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan.

Kurang lebih lima tahun kita menghabiskan waktu di area Ciumbuleuit, sebelum mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Politik. Gw sama sekali tidak tertarik untuk menjadi diplomat, karena itu gw tidak mendaftar ke Kemenlu usai lulus kuliah. Malah, gw daftar ke Departemen Keuangan, dan gagal.

Gw memilih menjadi wartawan, alasannya simpel, gw senang nulis. Ketika gw dapat kabar Gama lolos tes di Deplu, gw ikut senang. Kehidupan pun terus berjalan. Rutinitas membuat gw sempat “lupa” sama Gama.

Informasi tentang Gama gw dapat dari teman-teman seangkatan. Hingga suatu ketika, gw bertemu Gama secara tidak sengaja di Bandara Halim Perdanakusumah. Ketika itu, sekitar tahun 2001, gw diminta kantor untuk meliput kedatangan Presiden di Halim.

Saat tengah menunggu, tiba-tiba keluar Menlu Hasan Wirajuda. Wartawan yang sudah lama menunggu, tanpa dikomando langsung menyerbu Pak Menlu. Tapi ada satu sosok di belakang Pak Menlu, yang membuat gw terdiam.

Seorang laki-laki memakai jas dengan badan yang tegap. Gw gak akan pernah lupa sosok itu. Dia adalah Yugama. Ternyata, Gama adalah staf protokoler Menlu Hasan Wirajuda. Ah, ketika itu gw senang melihat Gama.

Dengan senyumnya yang khas, Gama ngomong ke gw,” Sorry Dod, gw gak bisa ngobrol lama-lama, nanti telpon-telponan aja yah,” kata Gama sambil memasukkan sejumlah tas ke bagasi mobil. Kami pun saling bertukar nomor telepon.

Lagi-lagi, rutinitas membuat gw lupa untuk menghubungi Gama. Sampai akhirnya pada suatu hari Minggu, gw makan di rumah makan sunda di Gondangdia. Kalau tidak salah sekitar tahun 2003 atau 2004. Gw dikejutkan oleh suara yang sangat familiar, ketika tengah asik menyantap hidangan yang tersaji di atas piring.

Yugama dengan tawanya yang khas menyapa gw, dan memperkenalkan perempuan yang ada di sampingnya. Ah, ternyata Gama sudah menikah dan gw sama sekali tidak tahu. Teman macam apa gw ini.

Kami pun ngobrol ngalor ngidul sambil melepas rindu. Itulah pertemuan terakhir gw dengan Yugama. Setelah itu, hanya bisa berkomunikasi lewat SMS dan juga Whatsapp. Sempat melihat foto Gama yang diposting teman di Facebook saat berada di Kantor KBRI di Roma, Italia.

Hanya melihat foto itu, rasa rindu gw ngobrol sama Gama sudah terpenuhi. Komunikasi terakhir dengan Gama terjadi pada November 2014. Ketika itu, Gama menghubungi gw lewat WA dari nomor yang gw tidak kenal.

“Dod, ini gw, Yugama. Apa kabar. Udah lama gak kontak-kontakan. Kangen gw,” tulisnya lewat WA.

Ah, sayang ketika itu gw tengah menjalankan tugas dari kantor, mewawancara pelatih Persib Bandung, Djajang Nurjaman, jadi baru 1 jam kemudian baru sempat balas. Gw ceritakan alasan gw kenapa baru bisa balas WA nya.

“It’s OK, no problrm Dod. Elo sehat-sehat aja kan?” balasnya.

Kami pun saling bersahutan melalui WA.

Esoknya, gw kirim link berita hasil wawancara dengan Djanur (pelatih Persib Bandung-red) ke hp Gama. Karena gw tahu dia adalah fans berat Persib Bandung.

“Gw bangga punya temen jadi wartawan. Keren wawancaranya, Dod,” tulis Gama.

Gw merasa pujian itu terlalu berlebihan dan gw balas WA dia itu dengan kalimat,” Gw juga bangga Gam punya teman diplomat,”

“Kalau elo udah di Jakarta, kita ketemuan yah Gam, udah lama gak ngobrol ngalor ngidul,” tulis gw di WA.

“Pasti, nanti gw kabarin kalau gw udah di Jakarta,” jawab Gama.

Itulah terakhir kali gw melakukan kontak dengan Gama. Sabtu malam, tak lama selepas buka puasa, gw ditelpon Sandra yang ngabarin kalau Gama meninggal dunia.

Gw sempat terdiam, tidak percaya, dan berharap Sandra tengah bergurau. Tetapi, info itu ternyata benar.

Minggu pagi, gw kembali lagi ke RS PGI Cikini, untuk bertemu dengan sahabat baik gw, Yugama Muchtar. Kali ini, gw benar-benar bertemu langsung dengan Gama. Namun, Gama tidak bisa lagi diajak berbicara, bercanda dan tertawa terbahak-bahak.

Tubuh itu sudah dibalut kain kafan. Wajah Gama tampak seperti orang yang tengah tidur lelap. Wajah yang sama sekali tidak berubah ketika terakhir kali gw ketemu di rumah makan sunda di Gondangdia, 2004 lalu.

Mata gw berlinang air mata, ketika istri Gama bercerita tentang detik-detik kepergian suaminya itu.

“Waktu itu abis azan Maghrib, Gama masih ngegodain saya sambil nyanyi-nyanyi. Dia sempat bilang mau ambil cuti buat nyenengin saya. Karena selama ini terlalu sibuk sama kerjaan. Dia mau ngajak saya jalan-jalan. Pas lagi gunting kuku di kamar, tiba-tiba Gama bilang kok pandangannya jadi gelap. Abis itu dia langsung rebahan di kasur. Gak lama kemudian dia seperti menahan sakit. Pas dibawa ke rumah sakit, Gama udah gak ada,” kata istri Gama sambil berlinang air mata.

Duh, Gam, kalau gak malu gw akan menangis meraung sekencang-kencangnya saat itu juga. Gw hanya bisa melihat wajah elo dan merasakan pipi gw basah dengan air mata.

Allah SWT sayang sama kamu Gam. Kamu dijemput setelah berbuka puasa di bulan Ramadan. Proses penjemputan itu juga berjalan dengan cepat. Gw menyesal gak menanyakan kabarmu ketika sudah ada di Jakarta.

Ajal memang menjadi misteri Ilahi. Tak akan ada yang pernah tahu kapan dia akan datang di hadapanmu. Terima kasih Yugama Muchtar atas pertemanan kita selama kuliah dan hingga kamu menghembuskan nafas terakhir.

Gw yakin elo sedang tersenyum di atas sana, ketika gw membuat note ini sambil berlinang air mata.

Sampai jumpa lagi kawan, ini hanya perpisahan sementara, karena suatu hari nanti kita akan berkumpul lagi dengan semua orang yang kita sayangi.

Jakarta 29 Mei 2017

"Teman baik itu tidak harus ada di sampingmu setiap hari, tetapi ada ketika kamu membutuhkan."

Yulastiawarman Zakaria Fajar Hidayat Gusti Pandu Wiguna Tresnawan Fajar R Ika Indriasari Chiemot Tazmania Elizabeth R. Pabunag Linda Corner Juli Izoel Soekarno Yunika Santi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Lagi

Aishah

Susu Segar Hometown Dairy Bikin Zuppa Soup Semakin Enak