Rezki Hasibuan: Idealis Hingga Ajal Menjelang

In Loving Memory: Rezki Perdana Hasibuan

Suatu sore, Rezki menghampiri gw.

“Dod, gw mau ngomong sesuatu sama elo, tapi ini bukan soal pekerjaan, ada waktu nggak?” tanya Kiki, paggilan akrab Rezki.

“Boleh, di Kedai aja yah (KEDAI TEMPO-red), biar lebih santai,” timpal gw.

“Oke deh,” ujar Rezki

Ketika itu, kondisi kesehatan Rezki sudah drop. Dokter memvonisnya untuk cuci darah dua kali seminggu karena fungsi ginjalnya yang sudah tidak sempurna.

“Begini Dod, gw dikasih tahu temen gw anak Mabes, katanya di RS Polri bisa cuci darah murah buat wartawan.”

Gw langsung terdiam. Gw udah tahu arah pembicaraan ini akan dibawa kemana. Memang biaya untuk cuci darah tidak murah. Bokap gw sempat setahun lebih cuci darah sebelum akhirnya memutuskan untuk cangkok ginjal pada Februari 1990.

“Kira-kira boleh gak yah kalau gw terima tawaran Mabes untuk cuci darah di RS Polri. Biayanya lumayan murah, gak sampai 100 ribu untuk sekali cuci darah.” Tambah Rezki.

Terus terang, kalau mengikuti aturan di kantor, jawaban atas pertanyaan Rezki adalah TIDAK BOLEH. Tapi, gw tidak langsung menjawab pertanyaan itu.

“Gw tahu Ki, biaya buat cuci darah itu mahal. Gw juga tahu, asuransi dari kantor tidak menanggung biaya untuk cuci darah. Susah buat buat gw untuk menjawab pertanyaan elo itu. 

Kalau gw jawab nggak boleh, kok rasanya gak adil buat elo. Karena ini kan menyangkut kelangsungan hidup elo. Kalau gw bilang boleh, nanti gw takut elo dianggap menyalahi aturan di kantor ini.” Jawab gw sedikit diplomatis.

“Gw juga tahu masalah itu Dod, makanya gw mau sharing soal ini sama elo sebelum gw menjawab tawaran itu,” kata Rezki.

“Gini aja, gw akan ngomong dulu soal ini sama Ade (Manajer Program KBR68H), karena gw gak bisa mutusin sendiri soal ini. Gak apa-apa kan Ki ?” tanya gw ke Rezki.

“Ya udah, gak apa-apa,” kata Rezki menutup perbincangan sore itu.

Soal ini sempat dibahas juga oleh Dewan Direksi KBR68H. Keputusannya, menurut gw cukup menyenangkan, Rezki diizinkan untuk cuci darah dengan menggunakan fasilitas dari RS Polri. Syaratnya hanya satu, Rezki tidak boleh membuat berita apa pun yang berhubungan dengan polisi.

Tentu gw langsung menyampaikan keputusan ini kepada Rezki, dengan harapan dia akan senang mendengarnya. Tapi, ternyata dugaan gw salah.

“Kayaknya gw gak akan ambil fasilitas Mabes Polri itu Dod, gak enak juga. Ada RS yang bisa cuci darah lumayan murah. Cuma tempatnya memang agak jauh kalau dari Depok. Jadi kayaknya gw akan pindah ke Kenari aja selama cuci darah.” Kata Rezki

Ah, gw gak nyangka kalimat itu yang keluar dari mulut Rezki, seorang wartawan yang hidupnya tergantung dari mesin cuci darah.

Sejak percakapan di Kedai itu, gw udah jarang berbicara panjang dengan Rezki. Karena kondisinya yang semakin drop, Rezki diizinkan untuk bekerja dari rumah. Hanya sesekali dia sempat datang ke kantor. Sampai suatu ketika dia telpon gw.

“Dod, gw mau liputan lagi, boleh gak ?”kata Rezki.

Ini pertanyaan yang mudah tapi jawabannya yang susah. Sebagai Korlip KBR68H, tentu gw dengan senang hati kalau ada reporter yang minta untuk liputan. Tapi, permintaan ini datang dari seorang wartawan yang harus cuci darah dua kali selama seminggu.

“Gw sih gak akan ngelarang elo untuk liputan lagi Ki. Cuma gw minta surat dari dokter elo yah, isinya kalau dokter itu ngebolehin elo untuk liputan lagi,” kata gw.

“Oke, nanti gw minta, jadi besok gw liputan ke DPR yah.” Ujar Rezki

“Oke,”

Rezki memang akhirnya merasakan lagi kehidupan sebagai wartawan radio. Tapi itu tidak lama. Setiap pulang dari liputan, Rezki selalu terduduk lesu di bangku yang ada di ruang tamu KBR68H.

“Gw istirahat dulu yah, baru bikin berita,” pinta Rezki ke gw.

“Ya udah, istirahat aja dulu di kapal selam (istilah untuk ruang istirahat di KBR68H).” kata gw.

Gw akui, Rezki merupakan salah satu wartawan KBR68H yang punya semangat menggebu-gebu untuk urusan liputan. Disuruh liputan kemanapun, dia pasti akan menerima tugas itu dengan senang hati. Termasuk untuk tempat liputan yang jarang dia singgahi, seperti liputan ekonomi.

Hubungan gw dengan Rezki memang tidak selamanya diisi dengan canda tawa. Terkadang, gw kerap kali berargumen dengan Rezki untuk hal-hal yang tidak penting. Misalnya soal musik. Rezki adalah pecinta aliran musik keras. Sedangkan gw adalah pecinta aliran musik apa pun, yang penting enak di dengar sama kuping gw.

Suatu ketika, Rezki mencela salah satu grup musik yang gw suka, entah apa nama grupnya gw lupa. Tentu gw gak terima. Maka, perdebatan panjang pun terjadi melalui chatting antara gw dan Rezki. 

Memang, tidak ada solusi karena Rezki selalu menganggap bahwa dia tetap benar. Akhirnya, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatan itu karena memang tidak ada titik temunya.

Rezki juga termasuk tipe orang yang keras kepala. Dia sangat benci terhadap koruptor. Bahkan, ketika seorang koruptor sudah keluar dari penjara, rasa benci itu tidak hilang. Suatu ketika, Rezki saya minta untuk mewawancarai salah seorang koruptor yang sudah bebas dari penjara.

“Gw gak mau, dia itu koruptor, sampai kapan pun gw gak mau wawancara itu orang. Ngeliatnya aja gw jijik, apalagi wawancara itu orang,” kata Rezki

“Loh, dia kan udah menjalani hukuman atas tindakannya itu. Emang kurang apa ? lagian, dia kan tetap narasumber,” timpal gw.

“Pokoknya gw gak mau, gw akan cari alternatif narasumber yang lain selain dia. Kan sama aja kan? Masih banyak kok orang yang paham soal pemilu selain dia,” kata Rezki.

Yah, begitulah Rezki. Dia selalu memegang teguh idealismenya. Benci kepada koruptor, benci kepada wartawan bodrex, tidak suka dengan ketidakadilan yang terjadi di negeri ini.

Ada satu omongan Rezki yang akan gw ingat terus sampai sekarang.

“Gw tahu gaji wartawan itu nggak gede dan susah untuk berharap jadi orang kaya dengan profesi sebagai wartawan. Tapi gw gak tega juga kalau ngelihat Dian sama Darrel harus panas-panasan naik motor. Gw pengen beli mobil seken aja biar mereka gak harus kepanasan kalau jalan-jalan.”

Ketika itu lah gw baru tersadar, bahwa gw sama sekali belum mengenal Rezki luar dalam. Meski gw adalah atasan langsungnya, tapi selama ini gw hanya menilai dia dari tulisannya, dari kerjaannya.

Ternyata Rezki adalah seorang suami dan juga ayah yang sayang dan punya perhatian besar terhadap istri dan anaknya. Rezki adalah seorang suami yang ingin menyenangkan istrinya. Rezki adalah seorang ayah yang ingin memanjakan anaknya.

Untuk Dian dan Darrel, kalian beruntung mempunyai suami dan ayah seperti Rezki. Tidak banyak orang yang mempunyai hati besar seperti Rezki. Kalian berdua tentu sayang sama Rezki, tetapi Tuhan Sang Maha Pencipta lebih sayang kepada Rezki. 
Dia tidak ingin melihat Rezki menderita lebih lama lagi. Karena itu, gw yakin, saat ini Rezki pasti sedang tersenyum menikmati hari-hari indahnya di atas sana.

Pintu surga pasti akan selalu terbuka untuk seorang suami, ayah, dan juga wartawan yang memegang teguh idealismenya hingga ajal menjemput. Istirahat yang tenang di atas sana Rezki Hasibuan.

- Doddy Rosadi -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Lagi

Aishah

Susu Segar Hometown Dairy Bikin Zuppa Soup Semakin Enak